Cyber Buyer Study Marsh menemukan bahwa hanya 50% organisasi di Asia yang merasa yakin terhadap langkah pengelolaan dan mitigasi risiko siber mereka. Angka ini merupakan yang terendah dibandingkan kawasan lain di dunia dan jauh di bawah rata-rata global sebesar 72%.
Risiko siber terbesar di Asia menurut Cyber Buyer Study Marsh:
Data pemerintah di berbagai negara di Asia menunjukkan meningkatnya frekuensi dan tingkat keparahan serangan siber berbasis Artificial Intelligence (AI), yang menyebabkan gangguan operasional bisnis, kerugian finansial, hingga kerusakan reputasi.
Penipuan dan deepfake berbasis AI menjadi ancaman yang berkembang sangat cepat. Hampir 90% bisnis di Asia Pasifik memperkirakan peningkatan kejahatan social engineering karena AI mempermudah pelaku kejahatan memanipulasi karyawan dalam skala besar, yang berujung pada kerugian finansial. Sebanyak 64% organisasi menyebut kerugian finansial sebagai kekhawatiran utama mereka.
Kombinasi faktor struktural, teknologi, dan manusia membentuk lanskap risiko siber di Asia serta menguji kemampuan organisasi untuk tetap sigap menghadapi ancaman. Cyber Buyer Study Marsh menyoroti beberapa faktor utama yang meningkatkan eksposur risiko:
1. Satu dari lima responden kesulitan mengikuti perkembangan ancaman siber baru.
Teknologi, termasuk AI, berkembang pesat dan melampaui kemampuan banyak organisasi untuk merespons secara efektif. Satu dari lima responden mengaku kesulitan mengikuti perkembangan risiko siber baru, sehingga kesenjangan yang melebar antara ancaman dan sistem pertahanan.
2. Human error dan rendahnya literasi siber masih menjadi kelemahan utama.
Hampir 95% pelanggaran keamanan siber secara global disebabkan oleh kesalahan manusia. Berdasarkan data Marsh, kurangnya pemahaman terhadap ancaman siber menjadi risiko sumber daya manusia terbesar bagi organisasi pada 2026, disusul oleh kesalahan pengelolaan data dan kekayaan intelektual.
3. Asia Pasifik kekurangan 2,6 juta talenta siber yang melemahkan kesiapsiagaan dan memperdalam krisis kepercayaan terhadap ketahanan siber.
Data Marsh menunjukkan bahwa kekurangan tenaga ahli teknologi menjadi salah satu dari lima risiko SDM terbesar di Asia. Meskipun 67% organisasi di Asia berencana berinvestasi pada talenta keamanan siber, Asia Pasifik masih menghadapi kesenjangan tenaga kerja keamanan siber terbesar di dunia, dengan sekitar 2,6 juta posisi yang belum terisi.
Kondisi ini memperlambat respons terhadap insiden, memperbesar kerentanan keamanan, dan menghambat organisasi dalam membangun program pengelolaan serta mitigasi risiko siber yang matang dan terintegrasi.
Asia menghadapi lebih dari sepertiga serangan siber dan social engineering di dunia. Hal ini mendorong organisasi untuk memprioritaskan keamanan siber dan kesiapan menghadapi insiden, namun masih mengabaikan transfer risiko siber, menurut Cyber Buyer Study Marsh.
Memperkuat ketahanan siber membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mengintegrasikan pengelolaan risiko siber dan transfer risiko. Seiring meningkatnya ancaman siber berbasis AI, organisasi perlu fokus pada pencegahan, deteksi, respons, dan pemulihan. Transfer risiko melalui asuransi siber memainkan peran penting sebagai perlindungan terhadap kerugian finansial akibat serangan siber dan social engineering, termasuk biaya pemulihan data, investigasi kebocoran, sanksi regulasi, hingga gangguan operasional bisnis.
Dengan kondisi pasar asuransi yang saat ini lebih menguntungkan perusahaan dengan profil risiko yang baik, ini menjadi waktu yang tepat bagi organisasi di Asia untuk mengadopsi pendekatan holistik guna meningkatkan ketahanan siber mereka.
Sebuah institusi keuangan mengalami kerugian besar setelah pelaku kejahatan memperoleh akses ke akun email karyawan melalui tautan phishing yang menyerupai halaman login Microsoft 365. Pelaku kemudian memalsukan alamat email direktur keuangan dan memanipulasi instruksi pembayaran internal, sehingga menyebabkan transfer dana yang tidak sah sebesar US$1,5 juta.
Organisasi tersebut berhasil memulihkan kerugian melalui asuransi kejahatan komersial, sementara asuransi siber menanggung tambahan biaya sebesar US$200.000 untuk kebutuhan digital forensik dan investigasi yang membantu mengungkap serangan phishing tersebut.
Article
25/08/2025