Skip to main content

Kepercayaan terhadap pengelolaan risiko siber di Asia paling rendah di dunia di tengah ancaman AI yang meningkat - Berikut penyebabnya dan langkah yang dapat dilakukan.

Cyber Buyer Study Marsh menemukan bahwa hanya 50% organisasi di Asia yang merasa yakin terhadap langkah pengelolaan dan mitigasi risiko siber mereka. Angka ini merupakan yang terendah dibandingkan kawasan lain di dunia dan jauh di bawah rata-rata global sebesar 72%.

Satu dari tiga responden menganggap ransomware dan kebocoran data sebagai risiko siber utama

Risiko siber terbesar di Asia menurut Cyber Buyer Study Marsh: 

  • Ransomware masih menjadi ancaman siber paling dominan di kawasan ini, dengan 33% responden menyebutnya sebagai ancaman utama.
  • Disusul oleh kebocoran data non-pribadi (29%) dan pelanggaran privasi akibat pencurian atau kebocoran data pribadi (28%), yang dapat mengekspos informasi sensitif perusahaan maupun individu.

Data pemerintah di berbagai negara di Asia menunjukkan meningkatnya frekuensi dan tingkat keparahan serangan siber berbasis Artificial Intelligence (AI), yang menyebabkan gangguan operasional bisnis, kerugian finansial, hingga kerusakan reputasi.

  • Indonesia mengalami lonjakan insiden siber dan beberapa serangan ransomware berdampak tinggi pada 2024. Mengutip The Jakarta Post, pada Juni 2024 terjadi serangan ransomware yang menyebabkan gangguan besar pada Pusat Data Nasional (PDN)/Pusat Data Nasional Sementara, sehingga sejumlah layanan pemerintah terdampak dan pemulihan dilakukan secara bertahap. Selain itu, pada Agustus 2024 juga terjadi insiden kebocoran data pada Badan Kepegawaian Negara (BKN) serta peretasan platform kripto pada September 2024.
  • Badan Keamanan Siber Singapura melaporkan peningkatan 21% dalam insiden ransomware pada 2024, didorong oleh pelaku kejahatan yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengotomasi dan meningkatkan metode serangan.
  • Kementerian Sains dan ICT Korea melaporkan bahwa pelanggaran keamanan siber meningkat sebesar 26% pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini sebagian disebabkan oleh taktik peretasan yang lebih canggih yang dimungkinkan oleh otomasi bertenaga AI dan serangan terkoordinasi.
  • Jepang melaporkan peningkatan 340% dalam serangan siber canggih yang menargetkan sistem pemerintahan dan infrastruktur kritis sejak 2023, menjadikannya salah satu pasar di Asia yang paling terdampak oleh serangan ransomware.

Sembilan dari 10 bisnis di Asia Pasifik memperkirakan peningkatan serangan social engineering, deepfake, dan penipuan berbasis AI

Penipuan dan deepfake berbasis AI menjadi ancaman yang berkembang sangat cepat. Hampir 90% bisnis di Asia Pasifik memperkirakan peningkatan kejahatan social engineering karena AI mempermudah pelaku kejahatan memanipulasi karyawan dalam skala besar, yang berujung pada kerugian finansial. Sebanyak 64% organisasi menyebut kerugian finansial sebagai kekhawatiran utama mereka. 

Perkembangan teknologi yang pesat melampaui kemampuan pertahanan organisasi, dengan risiko manusia sebagai tantangan utama

Kombinasi faktor struktural, teknologi, dan manusia membentuk lanskap risiko siber di Asia serta menguji kemampuan organisasi untuk tetap sigap menghadapi ancaman. Cyber Buyer Study Marsh menyoroti beberapa faktor utama yang meningkatkan eksposur risiko:

1. Satu dari lima responden kesulitan mengikuti perkembangan ancaman siber baru.

Teknologi, termasuk AI, berkembang pesat dan melampaui kemampuan banyak organisasi untuk merespons secara efektif. Satu dari lima responden mengaku kesulitan mengikuti perkembangan risiko siber baru, sehingga kesenjangan yang melebar antara ancaman dan sistem pertahanan.

2. Human error dan rendahnya literasi siber masih menjadi kelemahan utama.

Hampir 95% pelanggaran keamanan siber secara global disebabkan oleh kesalahan manusia. Berdasarkan data Marsh, kurangnya pemahaman terhadap ancaman siber menjadi risiko sumber daya manusia terbesar bagi organisasi pada 2026, disusul oleh kesalahan pengelolaan data dan kekayaan intelektual.

3. Asia Pasifik kekurangan 2,6 juta talenta siber yang melemahkan kesiapsiagaan dan memperdalam krisis kepercayaan terhadap ketahanan siber.

Data Marsh menunjukkan bahwa kekurangan tenaga ahli teknologi menjadi salah satu dari lima risiko SDM terbesar di Asia. Meskipun 67% organisasi di Asia berencana berinvestasi pada talenta keamanan siber, Asia Pasifik masih menghadapi kesenjangan tenaga kerja keamanan siber terbesar di dunia, dengan sekitar 2,6 juta posisi yang belum terisi.

Kondisi ini memperlambat respons terhadap insiden, memperbesar kerentanan keamanan, dan menghambat organisasi dalam membangun program pengelolaan serta mitigasi risiko siber yang matang dan terintegrasi.

Upaya keamanan siber masih belum cukup: Asia menghadapi lebih dari 30% serangan siber global seiring meningkatnya laporan klaim siber.

Asia menghadapi lebih dari sepertiga serangan siber dan social engineering di dunia. Hal ini mendorong organisasi untuk memprioritaskan keamanan siber dan kesiapan menghadapi insiden, namun masih mengabaikan transfer risiko siber, menurut Cyber Buyer Study Marsh.

  • Teknologi dan solusi keamanan siber menjadi porsi terbesar dalam anggaran (21%), mencakup deteksi ancaman, perlindungan jaringan, keamanan endpoint, dan pemantauan berkelanjutan.
  • Respons insiden siber dan manajemen kebocoran data menyerap 20,6% anggaran, menunjukkan pentingnya respons yang cepat dan efektif terhadap serangan.
  • Meski investasi terus dilakukan, laporan klaim siber di Asia meningkat 50% dari 2022 hingga 2024. Namun, asuransi siber dan kejahatan komersial hanya mencakup 15,6% dari total anggaran menjadikannya prioritas kedua terendah dalam pengelolaan risiko siber organisasi di Asia.

Menutup kesenjangan kepercayaan terhadap ketahanan siber melalui integrasi asuransi siber dan kejahatan komersial dengan keamanan siber serta kesiapan insiden 

Memperkuat ketahanan siber membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mengintegrasikan pengelolaan risiko siber dan transfer risiko. Seiring meningkatnya ancaman siber berbasis AI, organisasi perlu fokus pada pencegahan, deteksi, respons, dan pemulihan. Transfer risiko melalui asuransi siber memainkan peran penting sebagai perlindungan terhadap kerugian finansial akibat serangan siber dan social engineering, termasuk biaya pemulihan data, investigasi kebocoran, sanksi regulasi, hingga gangguan operasional bisnis.

Dengan kondisi pasar asuransi yang saat ini lebih menguntungkan perusahaan dengan profil risiko yang baik, ini menjadi waktu yang tepat bagi organisasi di Asia untuk mengadopsi pendekatan holistik guna meningkatkan ketahanan siber mereka.

Bagaimana asuransi membantu institusi keuangan memulihkan kerugian sebesar US$1,7 juta akibat serangan phishing.

Sebuah institusi keuangan mengalami kerugian besar setelah pelaku kejahatan memperoleh akses ke akun email karyawan melalui tautan phishing yang menyerupai halaman login Microsoft 365. Pelaku kemudian memalsukan alamat email direktur keuangan dan memanipulasi instruksi pembayaran internal, sehingga menyebabkan transfer dana yang tidak sah sebesar US$1,5 juta. 

Organisasi tersebut berhasil memulihkan kerugian melalui asuransi kejahatan komersial, sementara asuransi siber menanggung tambahan biaya sebesar US$200.000 untuk kebutuhan digital forensik dan investigasi yang membantu mengungkap serangan phishing tersebut.

Bagaimana organisasi Anda dapat memitigasi risiko yang ditimbulkan oleh AI? Hubungi kami untuk meningkatkan strategi ketahanan siber organisasi Anda